Menunggu.

September 5, 2008

Dari sekian banyak hal yang paling dianggap mengganggu bagi seseorang, mungkin menunggu adalah hal yang paling tidak disukai bagi hampir semua orang. Sebelumnya, perlu saya tekankan bahwa saya bukanlah seorang yang sempurna, yang hampir selalu bisa menepati janjinya tepat waktu dan tidak membiarkan orang lain menunggu. Alasan kenapa hal ini tiba-tiba muncul di kepala saya, lebih dikarenakan hal ini merupakan sesuatu yang umum yang mungkin pernah dirasakan oleh semua orang.

Bagi saya pribadi, menunggu adalah suatu hal yang sering saya rasakan dalam interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, baik keluarga, sahabat, teman atau bahkan orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Memang, ada kalanya saya merasa bahwa menunggu bukanlah sesuatu yang buruk sama sekali, karena saya menganggapnya sebagai bagian dari suatu proses untuk mencapai hasil yang saya inginkan. Tapi tentunya, pada lain kesempatan, sebagai manusia biasa yang tidak luput dari berbagai kekurangan, saya bisa sampai pada satu tahapan dimana menunggu bisa jadi sesuatu hal yang menganggu.

Dalam kaitannya dengan suatu pengambilan keputusan, seseorang tentu perlu melakukan analisa-analisa tertentu, dengan harapan bahwa tindakan yang akan ia ambil terkait keputusan tersebut tepat sasaran dan tentunya tidak merugikan orang lain. Menunggu, dalam kaitannya dengan hal ini, adalah sesuatu yang dianggap wajar karena selama proses menunggu tersebut dilakukan, masih ada hal lain yang bisa kita kerjakan sehingga pada akhirnya proses menunggu tersebut tidak kita sadari sudah berjalan dengan sendirinya.

Namun, seringkali kita dihadapkan pada situasi dimana, disaat kita menunggu, tidak ada satupun hal yang dapat kita kerjakan sehingga kita benar-benar harus berkonfrontasi langsung dengan proses menunggu tersebut. Dalam kamus saya, hal seperti inilah yang dapat mengganggu saya secara pribadi, terutama dari segi psikologis. Mengapa? Karena kondisi menunggu yang seperti ini, benar-benar memposisikan kita dalam keadaan idle condition. Yang mana, hal ini bukanlah sesuatu yang membuat nyaman bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain. Karena pada akhirnya, ketika kenyamanan itu hilang dan mempengaruhi mood saya dalam menjalankan aktifitas sehari-hari, bukannya hasil terbaik yang dapat saya capai, melainkan sebaliknya, pengaruh tersebut bahkan bisa menular sampai ke proses interaksi saya dengan orang lain. Tentunya, hal ini bukanlah sesuatu yang baik, karena saya percaya justru proses interaksi antara saya dengan orang lain, seharusnya didasari oleh goodwill antar sesama, bukannya malah bad mood :)

P.S. Maaf jadi sedikit curhat, tapi yang jelas saya sedang mengalami kondisi yang kedua dari menunggu, seperti yang saya jelaskan diatas. Terutama ketika saya on a tight schedule untuk dapat menyelesaikan skripsi saya, dengan catatan saya harus lulus Oktober nanti. Yang jelas, sampai sekarang skripsi saya masih stuck karena data-data yang saya butuhkan masih saja belum dikirim dari API ditambah dengan pekerjaan finansial dari skripsi saya yang juga belum dapat saya selesaikan. Well, di bulan Ramadhan ini ada baiknya saya sering-sering mengingatkan diri saya sendiri untuk bersabar.