Sahur Tanpa Asumsi

Akhirnya selain sahur hari pertama dan kedua, sahur hari ini saya sahur dengan makanan rumah yang, menurut saya cukup layak untuk dikatakan as a decent meal. Kenapa? Karena jujur saja, sejak sahur hari ketiga sampai kemarin, saya makan makanan di luar rumah, yang kalaupun dimakan di rumah itupun dengan delivery. (Yaa, nasib anak kost.. hahaha)

Lalu apa yang membuat sahur hari ini begitu menarik untuk saya pribadi? Tidak lain dan tidak bukan karena saya sahur di depan laptop saya, sambil mengisi Facebook dalam rangka berusaha untuk membantah sebuah asumsi yang nyangkut di kepala sepupu saya. Dia berasumsi bahwa saya ada certain kind of feeling dengan seseorang, yang memang harus saya akui beberapa hari terakhir ini komunikasinya cukup intens dengan saya.

Hm. Asumsi, bagi saya sendiri, saya menganggapnya sebagai suatu proses untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang sesuatu hal yang belum tampak jelas di permukaan. Sebagai contoh, katakanlah saat ini saya sedang “rajin-rajinnya” membangun komunikasi dengan seseorang, yang tentu saja hanya saya dan Allah Swt. yang tahu pasti alasan mengapa saya membangun komunikasi dengan orang tersebut. Kemudian tentang bentuk dan proses dalam membangun komunikasi itu sendiri, jelas yang tahu hanya saya dan orang tersebut. Namun, dalam kenyataannya, saya hidup di dunia yang bukan hanya saya dan dia yang menjalankan hidup ini. (Ditambah kalau komunikasi tersebut melibatkan situs sosial seperti Facebook, yang mau tidak mau hampir seluruh network saya maupun dia, bisa melihat dengan jelas segala bentuk komunikasi yang kami lakukan satu sama lain). – damn those mini-feeds

Pada akhirnya, tentu saja network kami dapat melihat secara kasat mata – kalau boleh dibilang hanya di permukaan saja – segala bentuk komunikasi yang kami lakukan, entah itu sekedar saling mengisi wall, saling tukar comment pada photo, dll. Yang jadi masalah adalah, ketika asumsi-asumsi tersebut, tanpa klarafikasi, dianggap sebagai sesuatu yang sudah pasti benar, dimana seharusnya pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tadi diberikan kesempatan untuk menjelaskan hal yang sebenarnya. Seringkali, masalah ini muncul dalam kehidupan kita sehari-hari, yang pada akhirnya juga bisa berpotensi terhadap kemunculan suatu konflik horizontal antar sesama ke permukaan.

“It’s already a complicated world, so don’t add more complications just by believing ONLY to your assumptions. Give someone the opportunity to explain anything he/she wants to explain. In the end, the line between truth and lies is very thin”

Blogged with the Flock Browser

Rizki Nugraha Hamim's Facebook profile

Leave a Reply